Persiapkan Kepemimpinan Mahasiswa & Pemuda untuk Antarkan Bangsa Masuki Gerbang Kemajuan di 2045

Jogja – Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya rayah, besar, indah dan nyaman bagaikan permadani surga. Kaya raya sumber daya alamnya dan sumber daya manusianya. Kebesaran Indonesia terbentang dari Papua sampai Aceh dengan 17 ribu pulau, garis pantai terluas nomor 2 di dunia.

“Nyaman sehingga menjadi pusat paru-paru dunia, dihiasi dengan keanekaragaman hayati, lautnya bertebaran mutiar dan ikan segar, daratnya penuh keaneka ragaman fauna dan flora,” ungkap Presiden Persatuan Mahasiswa Muslim ASEAN Zainuddin Arsyad saat pertemuan Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (POPMASEPI) di Yogyakarta 4 Desember 2017.

Menurut pria yang pernah menjadi Tahanan Politik 2017 ini, realitas yang terjadi dengan Indonesia saat ini adalah pertama kemiskinan yang besar mencapai 27,77 juta orang (2017 BPS), berikutnya pengangguran yang besar mencapai 7,04 juta orang (2017 BPS). Koruptor yang besar peringkat 90 se dunia (Corruption Perceptions Index).

“Inflasi, bahan pokok terus meroket. Lantas siapakah yang akan merubah semua ini menjadi lebih baik???? Mahasiswa dan Pemuda,” kata Zainuddin Arsyad.

Maka itu, kata dia, perlu mempersiapkan kepemimpinan mahasiswa untuk perubahan 100 tahun merdeka. Kata dia, dengan mahasiswa yang memiliki kapasitas keilmuan (Ilmu) menjadi modal awal didalam membangun pondasi kepemimpinan, karena dengan ilmu inilah bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang harus dilakukan atau tidak.

“Karena ilmulah yang merubah suatu peradaban dari terbelakang menjadi serba modern. Ilmulah yang membedakan perbedaan antara perubahan situasi dengan mahluk lain,” tutur Zainuddin Arsyad.

Dia melanjutkan karena ilmu dulu manusia tinggal didalam gogah sekarang sudah bisa tinggal di gedung-gedung pencakar langit tapi makluk lain yang tidak diberi akal untuk menelah ilmu lebih jauh maka mereka tetap berada pada kondisi yang sama.

“Ilmu inilah menjadi modal untuk membangun bangsa lebih baik sesuai bidang kita masing-masing,” sebutnya.

Dikatakannya, mahasiswa juga harus mampu menjadi suri tauladan di tengah-tengah masyarakat. Sepintar apapun seseorang kalau dia tidak memiliki moral maka ilmunya tidak akan begitu bermanfaat apa lagi dalam persoalan kepemimpinan. Seorang professor kalau dia ketahuan melakukan unmoral maka dia akan tersingkirkan dari lingkungannya.

“Seorang bupati atau gubernur jika ketahuan melakukan korupsi, zinah, narkoba maka dia akan jatuh wibawanya,” ucapnya.

Selain itu, tambah dia, mahasiswa juga harus memiliki seni kepemimpinan dan teguh dalam keberanian (berani). Seorang mahasiswa dan pemuda harus memiliki jiwa keberanian didalam dirinya untuk mengambil resiko perjuangan untuk mampu mengejar ilmu, meningkatkan moralitasnya, serta terus mengasa dirinya untuk memilki seni kepemimpinan di dalam organisasi walaupun harus berhadapan dengan berbagai macam cobaan dan tantangan.

“Mahasiswa juga harus menghargai tetesan darah juang para pahlawan..Semangat juang mahasiswa harus di dasar dengan torehan sejarah pahlawan terdahulu yang gigih dalam perjuangan,” jelasnya.

Oleh karenanya, mahasiswa dan pemuda Indonesia untuk menyambut kemerdekaan bangsa Indonesia 100 tahun di tahun 2045 maka marilah secara bersama-sama beringkarnasi semangat juangnya layaknya mendekati seperti Pangeran Diponegoro, Cokroaminoto, Soekarno, Agus Salim, Sutan Syahrir, Bung Hatta dll.

“Kemudian tanamkan dalam diri untuk memerangkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena setiap perjuangan itu membuahkan hasil kalau bukan kita yang menikmati insyallah anak cucu kita,” sebut Zainuddin.

Lebih jauh, Zainuddin menegaskan bangsa ini merasakan di masa-masa yang sulit untuk menjemput kemerdekaan 100 tahun (2045) dimana para pemudanya sebagian besar telah melupakan para pahlawan. Tapi lebih banyak mengingat para artis dan drama korea serta film india yang nyata mematikan semangat juang yang telah ditorehkan para pahlawan terdahulu.

“Karena sikap para pemuda itu dapat berdampak buruk keberlangsungan kemajuan bangsa Indonesia. Sudah berapa juta pemuda yang lahir namun tak kunjung muncul para pemuda yang di harapkan soekarno untuk menggunjang dunia, saat ini kita malah di guncang dunia dijadikan bangsa kita bangsa rebutan untuk menguras kekayaan alam dan memaksa rakyat yang sudah miskin untuk tetap diperas dengan berbagai macam tagihan,” pungkasnya.