Poros Pelangi: Reuni 212 Krikil Kecil Jadi Sandungan Jokowi Menuju 2019

Jakarta – Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (Jari 98) akan menjadi motor penggerak elemen Poros Pelangi yang diisi kumpulan aktivis, mahasiswa, pengangguran, buruh, petani dan nelayan sebagai parlemen jalanan dan ujung tombak menyelesaikan problem kegaduhan dinegeri ini.

Ketua Presidium Jari 98 Willy Prakarsa melihat potensi kegaduhan menuju tahun politik saat ini. Indikator tersebut mulai nampak dengan munculnya gerakan alumni demonstrasi 212 yang berencana menggelar reuni setelah satu tahun berlalu.

“Ini adalah bukti krikil kecil menuju skema kegaduhan di 2018 dan 2019. Krikil kecil itu sudah lumayan bikin panik rezim Jokowi yang sepertinya siap menjadi sandungan menuju 2019,” ungkap Willy, hari ini.

Tapi kehadiran Poros Pelangi ini, lanjut Willy, pihaknya siap menjadi garda atau ujung tombak menangkal kegaduhan tersebut yang bakal di mainkan elit politik untuk merebut suatu kekuasaan dari tangan Jokowi.

Willy mengaku sepakat dengan para tokoh agama yang menyebut tidak ada urgensi dan bukan bagian dari tindakan amar ma’ruf nahi munkar dari reuni 212 tersebut.

“Dulu memang gerakan 212 muncul untuk kasus Ahok, kalau sekarang apa yang mau ditonjolkan. Keliatan sekali ada skema penggiringan menuju 2018 dan 2019. Itu tidak bisa di elakkan lah bagi mereka,” ujarnya.

Dia menyayangkan jika panitia reuni 212 Presidium Alumni 212 itu beralasan untuk mengenang kembali dan mensyukuri nikmat Allah atas momen 1 tahun yang lalu bersatunya umat dari segala daerah, mahzab, halaqoh maka alasan tersebut dianggap menjadi tidak tepat.

“Kalo memang alasannya untuk bersyukur seharusnya ungkapan rasa syukur bisa dilakukan dimana saja, di masing-masing daerah juga bisa. Panitia gak perlu tuh repot-repot memaksa orang untuk datang ke Monas. Lha kalau kayak gini, pasti publik makin berandai-andai larinya kemana sich gerakan 212. Pasti sasaran tembaknya ya itulah, udah bisa jawab sendiri,” kata dia.

“Kecuali jika memang ada niatan lain alias tunggangan politis,” ucap Willy.

Dia melanjutkan bahwa pengerahan massa 212 untuk membodohi umat demi kepentingan ambisi pribadi atau politik dinilai tidak relevan lagi. Dia juga mengapresiasi pernyataan Din Syamsuddin yang mengatakan umat harus menunjukkan kualitasnya dibanding kuantitasnya. Dengan kuantitas yan besar apa kontribusi nyata yang bisa dilakukan untuk membangun ekonomi umat.

“Banyak masyarakat pengguna jalan mungkin beberapa diantaranya ada yang merasa terzalimi dengan acara yang sudah dilakukan. Ada yang harus ke rumah sakit, ada yang penghasilannya berkurang karena terjebak kemacetan, ada yang telah sidang skripsi, ada yang batal lamaran dll,” cetusnya.

Willy memastikan pihaknya sebagai corong untuk pembela kepentingan rakyat dan terus akan memperjuangkan Amanat Penderitaan Rakyat (AMPERA) agar pemerintahan Jokowi-JK segera menciptakan lapangan kerja.

“Saat ini rakyat sudah muak dengan perilaku para elite politik, gerakan Golput bisa saja terjadi nanti,” sebutnya.

Dia merasa prihatin dengan kehidupan rakyat saat ini yang ekonominya sangat jauh memprihatinkan, dan tsunami politik menuju 2019 itu bukan isapan jempol.

“Sudah saatnya pemerintahan Jokowi-JK perkuat intelijen dan melakukan langkah preventif khususnya soal Kamtibmas,” pungkasnya.