Hadiri Wisuda UBK, Prabowo Malah Diserang Tulisan yang Bikin Syok !!

Jakarta – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto hadiri acara wisuda Universitas Bung Karno di Balai Sudirman, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (16/11/2017).

Ia menjadi pembicara ilmiah atas undangan Ketua Yayasan Pendidikan Bung Karno, Rachmawati Soekarnoputri di depan 1.086 wisudawan.

Ketika maju memberikan pidato ilmiah, Prabowo nampak mengenakan pakaian khas Betawi dengan jas dan celana serba hitam.

Prabowo mengaku awalnya bingung saat memilih setelan pakaian yang akan dia pakai di acara wisuda tersebut.

“Saya dibilang boleh pakai pakaian apa saja, kalau saya sukanya pakai pakaian safari yang coklat-coklat itu. Tapi saya malu kalau pakai safari karena para guru besar pakai toga, pakaian saya harus lebih baik,” kata dia.

“Akhirnya saya pilih gunakan pakaian Betawi ini karena saya di Jakarta, saya cinta Indonesia,” tegasnya diikuti tepuk tangan para wisudawan.

Prabowo sendiri mengaku jarang sekali hadir sebagai pembicara di acara wisuda.

“Saya sebenarnya tidak suka, tidak biasa, karena latar belakang saya prajurit saya jarang ke acara lembaga pendidikan karena banyak profesor dan guru besar, minder saya.”

“Tapi Ibu Rachmawati tidak mau tahu, saya harus hadir. Saya pun semangat karena saya harap semangat Bung Karno mengalir ke saudara sekalian,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Prabowo menyampaikan para sarjana sarjana mengapa di negara Indonesia sekarang ini dibidang olahraga kalah dengan negara kecil, garam impor padahal negara maritim, beras juga impor, dan barang-barang lainnya juga ikut di impor.

“Mengakui kelemahan adalah awal dari membangun kekuatan, kalau kita tidak mau instrospeksi diri kita maka tidak tahu juga ada penyakit apa di dalam tubuh. Sama seperti negara kita dan tiba-tiba akan hancur dengan penyakit di dalam tubuh. Kita juga harus hati-hati asing yang akan menguasai negara kita,” jelas Prabowo.

Disebutkan dia, gini rasio adalah suatu perbandingan yang disebut 080 artinya 1℅ dari 80 ℅ menguasai tanah di Indonesia, seluruh kekayaan negara Indonesia hanya dikuasai oleh 1 ℅ dari penduduk.

“Ini saya katakan dan pasti banyak yang tidak suka dengan Prabowo Subianto. Negara kita sudah tidak ada kekayaan nasional, kita sudah mengalami kebocoran kekayaan nasional,” bebernya.

Dia menyimpulkan bahwa masa depan Indonesia berada di tangan para pemuda dan salah satunya harus ada yang mau menjadi pemberani membangun negeri ini atau akan menjadi antek asing yang juga menjajah negara ini.

“Jadilah sarjana yang akan membangun bangsa ini.
Jangan pernah menyerah, jangan pernah pesimis. Kalian harus berani, jangan menebar kebencian, orang jahat kita balas dengan kebaikan, kebajikan dan kesantunan. Terima kasih selamat sukses, terimakasih kepada gurunya almamater dan bangsa Indonesia menunggu hasil karya kalian,” tandasnya.

Sementara itu, Rachmawati juga mengucapkan selamat dan sukses kepada mahasiswanya dan mengingatkan agar tidak pernah meninggalkan apa yang pernah dapat di UBK.

“Untuk para orangtua mahasiswa/wisudawan wisudawati saya ucapkan terima kasih telah menitipkan anak-anaknya di UBK sekali lagi saya ucapkan selamat dan sukses,” tukasnya.

Beberapa tokoh turut hadir dalam acara tersebut seperti Amien Rais, Djoko Santoso, Duta Besar Venezuela, Duta Besar Korea Utara, dan lain-lain.

Disela-sela acara, muncul penampakan tulisan berisikan pesan penting untuk Prabowo Subianto. Tulisan tersebut mengaku berasal dari Putra/Putri Bung Karno.

Tulisan Mahasiswa UBK untuk PrabowoBerikut isi kutipan tulisan yang viral saat pidato Prabowo berlangsung.

SEORANG NEGARAWAN
TIDAK AKAN MANGKIR DARI
KEWAJIBAN MEMBAYAR PAJAK
DEMI Kepentingan Rakyat dan negaranya !!!

Tolong :
Bpk.Prabowo mengklarifikasi kesalahan dan ketidak benaran pemberitaan yang menyebut nama Bapak.
Agar di moment trakhir sebelum kamu melepaskan status sebagai mahasiswa/i , dan dilantik menjadi wisudawan/i mampu yakin dan percaya serta berbangga diri karena pada momentum hari ini kami dpt melihat & mendengarkan langsung sosok negarawan sejati !!
TTD
Putra/i Bung Karno
#Jikalau Opinipun di kebiri -> otoriter kembali ke orba