Habis Manis Sepah Dibuang, Nasib Buruh Dikibulin Anies Sandi

Jakarta – Hanya 2 pekan berlalu pasca dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta untuk periode 2017-2022, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dituding telah sukses besar membohongi buruh yang mendukungnya dalam kontestasi Pilgub DKI Jakarta 2017-2022.

Hal ini terbukti ketika Anies-Sandi melanggar butir pertama kontrak politik yang ditandatangani bersama dengan kelompok buruh pendukung yakni ‘Menetapkan Upah Minimum Propinsi (UMP) DKI Jakarta lebih tinggi dari PP 78/2015, atau minimal sesuai dengan UU 13/2003, yakni berdasarkan survey pasar’.

“Buruh dibohongi, Anies-Sandi telah tunjukkan karakter aslinya,” demikian disampaikan Korbid Perburuhan Prodem Dedi Hardianto, hari ini.

Dijelaskan dia, penetapan UMP DKI Jakarta yang cuma naik sebesar 8,71% atau sesuai dengan PP 78 yang dikeluarkan pemerintah membuat kenaikan upah buruh untuk tahun 2018 di Prov. DKI Jakarta hanya naik sebesar Rp. 292.285 dari upah tahun sebelumnya yakni Rp. 3.355.750, padahal sehari sebelum ditetapkan, pada 31 Oktober 2017, Wakil Gubernur Sandiaga Uno yang menemui buruh pada aksi tuntut kenaikan upah buruh 2018 berjanji akan mencari win-win solution untuk menaikkan upah buruh, sehingga dengan penuh harap buruh mengeluarkan angka tuntutan sebesar Rp. 3.917.318 atau naik sebesar 13,9% berdasarkan Komponen Hidup Layak (KHL) hasil survey Dewan Pengupahan Buruh Prov DKI Jakarta.

“Lagi-lagi buruh gigit jari dibohongi oleh pemimpin pembohong seperti Anies-Sandi, kampanye buruh yang mengejar ketertingalan upah, atau penyesuaian kenaikan upah ASEAN sebesar US$ 50 gagal total, bahkan dipastikan upah buruh Jakarta akan kembali di bawah upah buruh Karawang dan Bekasi yang Cuma kawasan penyangga ibukota,” terang Dedi.

Menurut dia, hal ini semacam sinyal yang menunjukkan siapa sebenarnya Anies-Sandi yang dengan mudahnya ingkar janji, patut di duga pasangan ini hanya mendompleng buruh dengan janji manis demi mengejar kursi pemimpin tertinggi di ibukota Jakarta, seperti kata pepatah “habis manis sepah dibuang”.

Sebelum menetapkan upah, kata dia, Anies sebenarnya telah memberikan kode halus seperti yang dikutip dari berita yang dimuat Detik.com Anies menyatakan “Akan siap kerja per 1 Januari 2018. Warga bisa melaksanakan itu dalam waktu cepat, penetapan UMP itu sudah menimbang aspirasi dari pihak pengusaha maupun pekerja. Ini memudahkan semua pihak, dari sisi buruh kenaikan, dan pengusaha tidak menanggung beban berat”.

“Yang artinya Anies hanya mementingkan kepentingan kelompok pengusaha tanpa memikirkan kehidupan buruh selama dirinya memimpin ibukota Jakarta,” terang dia.

Masih kata Dedi, Anies seperti tutup mata dengan biaya hidup yang tinggi bagi buruh di Jakarta, Gubernur baru ini seolah pura-pura tidak paham bahwa per 1 Januari biaya sewa kontrakan otomatis naik, belum lagi harga TDL, BBM dan kebutuhaan pokok yang juga dipastikan naik seiring dengan kenaikan upah buruh. Melihat gelagat Gubernur Retorik ini, dapat dipastikan pada 2018 buruh Jakarta akan tetap miskin dan hidup pas-pasan.

“Lalu bagaimana dengan 9 butir lainnya dalam kontrak politik Sepultura antara Anies-Sandi dan buruh?? Sepertinya kita akan segera mengetahui jawabannya semudah membalik telapak tangan, mengingat butir pertama saja dengan mudahnya diingkari,” bebernya.

Dia kembali mengingatkan kepada buruh dan rakyat Indonesia mengingat dan memahami karakter pasangan Gubernur baru ini, mengingat isu yang beredar Anies bercita-cita menjadi RI 1 dan Sandi yang bermimpi menjadi RI 2.