Insiden Penolakan Panglima TNI, JARNAS Kutuk Amerika Serikat

Kita Tidak Butuh Amerika Serikat

Jakarta – JENDERAL TNIĀ Gatot Nurmantyo (GN) diberitakan sebelumnya telah dilarang masuk ke wilayah AS pada Sabtu (21/10/2017). Saat itu, Panglima TNI beserta delegasi masih berada di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang dan hendak check in.

Pro dan kontra pun bermunculan terkait penolakan GN tersebut sehingga menyita perhatian publik. Sejumlah massa tergabung dalam Jaringan Aktifis Nasional (JARNAS), pun bereaksi dan mengaku geram dengan tindakan pemerintah Amerika tersebut.

Mereka menyambangi Kedubes AS Jl. Medan Merdeka Selatan Gambir Jakarta Pusat, Rabu (25/10) dan menuntut Presiden Amerika Donald Trump meminta maaf secara langsung kepada Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo dan rakyat Indonesia.

“Kami minta Presiden Amerika meminta maaf kepada rakyat Indonesia. Kami kutuk tindakan Amerika, bila perlu Dubes AS keluar dari Indonesia. Kita tidak butuh dengan Amerika,” tegas Koordinator aksi AR. Pakaya saat berorasi.

Lebih lanjut, AR. Pakaya menegaskan Amerika Serikat untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri Indonesia terhadap peristiwa tahun 65, apalagi membuka dokumen yang akan melahirkan propaganda baru di tengah – tengah masyarakat Indonesia.

“Amerika hingga detik ini juga belum bisa mengungkap aktor pembunuhan Presidennya Jhon F Kennedy. Jadi soal dokumen 1965, Amerika jangan campuri urusan dalam negeri Indonesia. Jangan pernah membuka dokumen tsb,” sebutnya.

Sementara itu, orator lainnya Rahmad Himran menyebutkan bahwa insiden yang dialami Panglima TNI merupakan insidential yang harus dianggap serius oleh semua rakyat Indonesia. Presiden Amerika harus minta maaf secara langsung kepada rakyat Indonesia.

“Apabila tuntutan kami tidak direspon maka kami minta Dubes Amerika keluar dari Indonesia,” pungkasnya.