PRD: Sorak Sorai Pekik Merdeka, Lenyap dalam Sekejap

Syair Kebangsaan

Oleh : Agus Jabo Priyono, Ketua Umum PRD

Sorak sorai pekik merdeka, lenyap dalam sekejap.

Dengan segala tipu daya, imperialisme kembali berkuasa, mensabotase kedaulatan bangsa, menjadikan tanah air kita kue besar bagi mereka, untuk berpesta pora.

Disusunlah kekuasaan sebagai perpanjangan tangan mereka, layaknya Gubernur Jendral pada masa Hindia Belanda.

Alam liberal telah membius penguasa agen mereka, konsep ditiru sedemikian rupa, yang kuat kapitalnya, mengatur semuanya, menyingkirkan anak bangsa menjadi rakyat jelata.

Ibu Pertiwi kembali bersusah hati.

Trisakti, dengan Pancasila sebagai dasar negara, dibongkar, martabat bangsa dan tanah air diobral.

Berteriak-teriak humanisme, tetapi menjunjung tinggi imperialisme.

Tuan-tuan besar kembali berkuasa, seperti dulu kala, jutaan hektar tanah dikuasainya, kebun sawit, tambang dan usaha lainnya merajalela, menyingkirkan anak bangsa, yang bertahan hidup hanya dengan secuil tanah garapan, sandaran hidupnya.

Manisnya buah nangka dimakan mereka, getahnya disisakan untuk kita.

Liberalisme, telah menciptakan kesenjangan sosial yang teramat tajam, yang kuat menggilas yang lemah. Sesama anak bangsa saling curiga dibuatnya, politik adu domba dipelihara, saling hantam tanpa paham akar persoalannya.

Kaum terpelajar menjadi baut korporasi, eksis hanya karena androidnya, berselancar di dunia maya, setiap hari sibuk mencaci maki siapa saja, hanya karena rasa tidak suka.

Kemakmuran tidak merata, semua menjadi gila, baik tua maupun muda, bertarung di dunia maya, sedangkan tuan-tuan di sana tertawa terbahak bahak menyaksikan itu semua, sambil menghitung setiap jengkal kekayaanya.

Demokrasi telah menjadi liar, ugal ugalan, saling hujat cakar mencakar, meninggalkan prinsip moral serta kepribadian bangsa.

Mereka yang berkuasa sibuk mengamankan posisinya, sedangkan hukum berubah seperti srigala, memburu siapa saja yang mengganggu kepentingan tuan besarnya.

Kerakusan merajalela, karena kekuasaan berharga mahal,diperoleh melalui jalan-jalan gelap tanpa adab.

Penderitaan rakyat dianggap sampah yang harus dibuang jauh, secepat-cepatnya, agar tidak mengganggu kenyamanan hidup mereka.

Keahlian mereka hanya membius rakyat dengan dongeng serta pertunjukan yang memuakkan.

Demokrasi, hanyalah sekumpulan kata indah dalam buku-buku, karena pada prakteknya, hanyalah alat semata bagi tuan-tuan besar untuk melindungi kepentingannya.

Televisi terkadang berubah fungsi menjadi alat provokasi, menampilkan berita-berita yang membakar para pemirsa.

Media online abal-abal tumbuh subur seperti jamur, memproduksi berita palsu setiap waktu, memuat kabar fitnah tanpa pandang bulu.

Orang-orang suci yang jadi teladan dan dihormati, ikut tergelincir dalam tajamnya polarisasi, dihujat tanpa adab, menjadi tontonan yang memilukan.

Penderitaan rakyat telah dipolitisir sedemikian rupa, menjadi dagangan politik semata, tidak pernah ada solusinya.

Akal sehat telah disihir oleh setan setan kekuasaan, pikiran dan hati menjadi hitam gelap, penuh kepalsuan, kebencian merjalela, mengubur rasa kebersamaan, mengikis habis jiwa kebangsaan.

Generasi muda cemas akan hari depannya, frustrasi, karena kehidupan penuh tipu daya, kepalsuan di mana-mana, akhirnya berbondong-bondong memburu surga dengan cara mengkonsumsi narkoba.

Negeri ini penuh dengan orang pintar, tetapi miskin nurani dan hilang jatidiri, martabat dan kehormatan pun ditukar dengan angka-angka, harta benda.

Tuan-tuan besar bergembira ria, karena bisa membeli apa saja, termasuk negara beserta aparatnya, untuk melindungi serta mengembangkan kapitalnya.

Sebelum kita binasa sebagai sebuah bangsa, hentikan, ayo segera kita hentikan, alam liberal, yang semakin ugal-ugalan.

Bangunlah dari mimpi panjang kegilaan ini, hentikan pertikaian palsu, belajarlah dari bangsa-bangsa yang hancur lebur porak poranda, akibat perang saudara, termakan adu domba, karena mereka yang di sana sedang memainkannya.

Saudara-saudara, mari kembalikan akal sehat kita, agar tahu siapa musuh kita sebenarnya, yang terus berusaha menjajah kita, untuk selama-lamanya.

Wahai Patriot Bangsa, mari kita junjung tinggi prinsip-prinsip dalam Preambule UUD 45, kita bersatu berjuang bersama, mewujudkan cita-cita Proklamasi, memenangkan kembali Pancasila sebagai dasar dan arah dalam berbangsa serta bernegara, dengan Trisakti sebagai jalannya, masyarakat adil makmur tujuannya.

Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa!

Salam Gotong Royong

#PRDMenangkanPancasila