by

Pancasila Pemersatu Bangsa, Waspadai Bahaya Takfiri

-Nasional-170 views

Jakarta – Indonesia adalah negara Pancasila. Segenap elemen dan anak bangsa sudah sepakat bahwa Pancasila adalah kepribadian bangsa Indonesia.

“Hal ini tidak main-main dan sudah dibuktikan juga oleh sejarah ketika aliran kiri akan menguasai pemerintahan disaat itu rakyat sedang dalam kemiskinan luar biasa, komunis dominan, tapi tidak juga tuh peristiwa G30S meruntuhkan Pancasila,” ungkap mantan aktivis 98 Mona Pangabean, Minggu (13/11/2016).

Lebih lanjut, Mona mempertanyakan sejak kapan partai Islam ataupun kekuatan Islam bisa menang dalam Pemilu melawan kekuatan nasionalis.

“Coba sebut dimana kapan partai apa? Padahal kita mayoritas muslim,” ucap dia.

“Itulah hebatnya founding father kita menempatkan posisi Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dan pemersatu bangsa,” ujar dia lagi.

Mona pun mengingatkan apabila ada cara-cara dari umat Islam seperti saat ini ingin meruntuhkan pemerintahan yang sah dengan dalih Islam sangatlah keliru besar karena akan bertentangan dengan kesepakatan segenap bangsa Indonesia yang terangkum dalam Pancasila.

“Ayo bela Islam tanpa mengingkari komitmen nasional kita dan Pancasila,” tandasnya.

Ulama Lebanon Ingatkan Indonesia Soal Bahaya Takfiri

timur-tengah-memanasKetua Majelis Ulama Lebanon Syekh Abdul Nasser Jabri pernah menemui Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di kantor Kemenagnya Lapangan Banteng, Rabu (23/3).

Dalam pertemuan tersebut Abdel Nasser membahas dua hal pertama untuk mengingatkan Indonesia terjadi konflik horizontal langsung maupun tidak langsung. Kedua terkait kerja sama di bidang pendidikan.

“Syekh Abdul Nasser Jabri merupakan ulama Sunni moderat yang sedang melakukan lawatan di tiga negara dengan muslim terbanyak India, Indonesia dan nanti akan ke Malaysia,” ujar Menteri Agama Lukman Hakim Saefudin.

Menag mengatakan, Abdul Nasser mengingatkan bahwa konflik yang selama ini terjadi di Libya, Yaman, Suriah, Irak dan beberapa negara lain bukan semata-mata persoalan agama. Penyebab utamanya adalah adanya persoalan politik. Agama hanya dijadikan sebagai alasan sehingga perbedaan semakin besar bahkan sampai menumpahkan darah.

Konflik ini juga diperparah adanya paham Takfiri. Paham itu mengkafirkan orang yang berbeda pandangan meski tidak prinsipil. “Indonesia harus benar-benar mewaspadai perkembangan tersebut, jangan sampai terjadi di India, Indonesia dan Malaysia,” jelas dia.

Menag juga mengapresiasi dan berterimakasih atas perhatian Rektor Universitas Lebonan agar Indonesia dapat dengan cepat merespon masalah tersebut. Lukman mengatakan bangsa Indonesia sejak dulu adalah bangsa yang toleran.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed