Otomatisasi Jalan Tol, Aspek Indonesia: Kejahatan Kemanusiaan yang Biadab

Jakarta – Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) yang dicanangkan pemerintah melalui Bank Indonesia sejak Agustus 2014 lalu kembali mendapatkan penolakan dari Asosiasi Serikat Pekerja (Aspek) Indonesia dan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI).

Presiden ASPEK Indonesia Mirah Sumirat mengatakan akan ada dampak yang ditimbulkan dari GNNT ini yakni jutaan pengangguran baru akibat PHK massal di berbagai sektor industri. Salah satunya kebijakan yang akan diterapkan kali ini adalah otomatisasi jalan tol.

“Ini ada kejahatan kemanusiaan yang biadab salah satunya penerapan teknologi otomatisasi jalan tol tanpa kecuali. Akan ada 5 nyawa (pekerja, istri & 3 org anak) yang terancam,” ungkap Mirah, di LBH Jakarta, hari ini.

Menurutnya, penerapan otomatisasi ini telah menabrak regulasi dan terjadi kebiadaban karena rakyat dipaksa harus wajib memakai kartu.

“Harusnya kan negara hadir disitu, kenapa harus mengikuti teknologi sehingga berdampak pada pengangguran,” ujarnya.

Dia pun angkat suara jika terlalu naif jika pekerja tol disalahkan soal kemacetan. Kata dia, kemacetan gerbang tol adalah karena volume kendaraan semakin meningkat tapi jalur tolnya tidak ada perbaikan fasilitas.

“Ini jalur tolnya ya gitu-gitu saja. Padahal duitnya banyak. Apakah dengan otomatisasi akan lancar gitu,” sebutnya.

“Harus jelas pemerintah memperhatikan para pegawai yang terancam PHK ini. Nasibnya bagaimana ? Kami mengajak rakyat Indonesia peduli jangan mementingkan diri sendiri,” pungkasnya.

Sementara itu, Sekjen Aspek Indonesia Sabda Pranawajati mengatakan perlawanan ini bentuk konkret untuk melawan aksi korporasi yang berkolaborasi dengan pemerintah.

“Jika 31 Oktober menolak uang, maka akan kita laporkan. Karena konsumen punya hak yang sama,” tukasnya.