FPR Kutuk Serangan Agresi Militer AS terhadap Kedaulatan Suriah

Jakarta – Front Perjuangan Rakyat (FPR) mengutuk keras agresi imperialis Amerika Serikat (AS) terhadap kedaulatan Suriah dengan menembakkan 60 misil Tomahawk pada pagi 7 April 2017 dari kapal perang AS USS Ross dan USS Porter yang berada di laut Mediterania ke pangkalan udara Sha’irat di Propinsi Homs milik Suriah.

“Serangan sepihak agresi AS telah menjadi kelanjutan politik perang agresi yang memiliki sejarah panjang di dunia dengan tujuan menguasai Suriah sepenuhnya di bawah kontrol imperialis AS secara ekonomi, politik, kebudayaan, dan militer,” kata Koordinator FPR Rudi HB Damman, hari ini.

Dijelaskannya, Presiden Donald Trump beralasan bahwa pengeboman tersebut sebagai respon atas serangan militer Suriah pada 6 April 2017 terhadap warga Suriah di kawasan Khan Shaykhun yang menggunakan senjata kimia gas Sarin sehingga menewaskan 86 warga Suriah. Donald Trump dengan sombongnya juga menyerukan semua bangsa beradab bergabung dengan AS untuk mengakhiri pembataian di Suriah. Serangan agresi ini didukung oleh Inggris, Jepang, Arab Saudi, dan sekutunya di Eropa.

Kata Rudi, usaha agresi imperialis AS untuk menguasai Suriah telah dilakukan lebih dari enam tahun dengan alasan Pemerintahaan Bashar al-Assad adalah pemerintahan tidak demokratis dan menindas rakyatnya. AS sendiri membiayai dan menyokong kelompok oposisi bersenjata yang terkoneksi dengan imperialis AS, termasuk kelompok teroris Al-Qaeda dan Al Nusa Front, agar dapat menumbangkan Assad.

“AS menginginkan adanya pergantian rejim di Suriah yang dapat dikontrolnya sehingga menjadikan Suriah sebagai negeri setengah jajahan sepenuhnya yang dapat dikuasai minyaknya dan kekayaan alamnya,” ucap dia.

Selama ini, lanjutnya, AS berkedok mengobarkan perang melawan teroris Negara Islam Suriah dan Irak (ISIS) di Suriah untuk membenarkan intervensi militernya padahal serangan militer tersebut bertujuan menghancurkan infrastruktur milik rakyat Suriah dan kekuatan militer Suriah. AS sendiri sejak pemerintahan Obama memiliki rencana serangan senjata kimia kepada Suriah dan mengkambinghitamkan pemerintahan Assad. Jelas, imperialis akan selalu menggunakan fitnah dan intrik untuk menundukkan negara yang mempertahankan kedaulatan negerinya dari agresi dan pendudukan imperialis AS.

“FPR bersikap tindakan pengeboman militer AS adalah agresi kedaulatan rakyat Suriah dan tidak bisa dibenarkan sekali pun meski dengan alasan respon atas serangan kimia Suriah terhadap rakyatnya, atas nama demokrasi, dan atas nama apa pun. Apalagi penggunaan senjata kimia oleh militer Suriah belum bisa dibuktikan melalui investigasi,” bebernya.

Selain itu, kata dia, sikap pemerintah Indonesia yang hanya bisa mengatakan “prihatin” dan “menyayangkan” agresi militer AS adalah bentuk sikap lama berpuluh tahun pemerintah Indonesia yang tidak berani bertentangan dengan intervensi dan dominasi AS. Hakekat sikap pemerintah Indonesia yang tidak tegas adalah mendukung agresi militer AS.

Oleh karena itu, FPR menyatakan mengutuk keras serangan agresi imperialis AS terhadap Suriah karena merupakan pelanggaran kedaulatan.

“Imperialis AS tidak memiliki hak melakukan agresi militer terhadap kedaulatan negara dengan alasan apa pun,” jelasnya.

Selanjutnya, imperialis AS harus keluar dari campur tangannya terhadap masalah Suriah dan menarik seluruh pasukannya di sekitar Suriah, menghentikan seluruh dukungan langsungnya terhadap teroris Al Nusra dan Al Qaeda yang menjadi kakitangan imperialis AS.

“Hanya rakyat Suriah sendiri yang berhak menentukan nasibnya sendiri dan bebas dari campur tangan AS,” kata dia.

Rudi juga mendesak pemerintah Indonesia agar mengutuk keras serangan imperialis AS dan mengambil sikap tegas dan nyata terhadap agresi AS secara politik sebagai bentuk politik aktif menentang intervensi dan agresi terhadap kedaulatan suatu bangsa.

“Menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia dan rakyat tertindas seluruh dunia tetap terus bersatu dan berjuang tanpa henti mengobarkan anti imperialisme AS serta perang teror dan agresinya yang telah membuat penderitaan rakyat di dunia,” tandasnya.