Lewat figur Mukidi, Soetantyo Moechlas mengaku bisa bermain-main dengan ambiguitas, terutama berkenaan dengan pertanyaan moral dan kepatutan
Karena perjalanan panjang dan makan terus, para penumpang kebelet dan antre di depan toilet pesawat. Ros berdiri di belakang orang hitam tinggi besar, sementara di belakangnya ada Mukidi.

Mukidi yang tak tahan, tenang saja buang angin wesss.. Ikhlas. Tiba-tiba Ros berteriak sambil tutup hidung; “Mas Mukidi, gila! Masa orang di depan gue–sudah hitam, kentutnya itu seperti parfum Paris, tahan lama!”.

Itu salah satu cerita spontan yang dikisahkan Soetantyo Moechlas kepada Beritagar.id saat jumpa, dan cerita itu belum pernah dipublikasi di mana-mana. Cerita tersebut adalah kisah nyata Soetantyo sendiri ketika pergi ke Amerika Serikat belasan tahun lalu. Ros yang disebut tadi adalah rekan kerjanya. “Inspirasi Mukidi itu dari mana saja,” kata Yoyok, sapaan akrabnya.

Yoyok adalah pencipta tokoh fiksi nan jenaka bernama Mukidi yang kini jadi sensasi, setelah sebelumnya viral. Bukan hanya di jejaring sosial, banyak juga portal berita online yang mengulasnya. “Gue enggak menyangka lho,” ujarnya.

Usia kisah Mukidi sebenarnya sudah hampir dua dekade. Waktu itu Yoyok rajin mengirim cerita Mukidi ke program Ida Krisna Show di radio Prambors, yang dibawakan oleh penyiar Krisna Purwana dan Ida Arimurti di era 80-an.

Sebelum mengirim cerita-cerita itu Yoyok memang dikenal kocak. Ketika para rekannya jenuh dalam acara kantor di Hotel Horison Ancol tahun 1986, dia mengibur mereka dengan kisah Mukidi. “Itu adalah pertama kalinya gue coba membuat orang lain tertawa,” kata pria berusia 62 ini.

Ia lalu mengembangkan beberapa karakter pelengkap dalam cerita Mukidi. Ada Wakijan, sahabat karib Mukidi, Markonah, istri Mukidi, kemudian Mukirin dan Mukiran, merupakan kedua anak Mukidi.

Penamaan Mukidi menurut Yoyok karena dia suka nama-nama Banyumasan. Wilayah Banyumasan terletak di barat Jawa Tengah yang mengitari Gunung Slamet dan Sungai Serayu. Kebetulan dia berasal dari Purwokerto. “Nama Mukidi bukan diambil dari film Warkop DKI,” ujarnya.

Awal ketenaran Mukidi sebetulnya bermula ketika nama itu jadi bagian strategi pemasaran tempatnya bekerja dulu. Mukidi singkatan dari obat Mucopect dan Kiddi Pharmaton. “Singkatan itu memudahkan penjualan,” kata pensiunan perusahaan obat Boehringer Ingelheim ini.

Kisah Mukidi telah dibukukannya enam tahun silam. Antara lain Laskar Pelawak, Jejak Sang Pengembara dan 30 Tahun Menjadi Tukang Obat. Buku-buku itu dia tulis dan diterbitkan dengan biaya sendiri–untuk kalangan terbatas. “Ya tidak laku-laku amat,” kata Yoyok tertawa.

Tapi ketekunan anak ke-4 dari 11 bersaudara itu kini terbayar. Berkat Mukidi, nama Yoyok ikut populer. Kediamannya di kawasan Bekasi sering kedatangan wartawan dan tamu, bahkan sudah ada penerbit besar yang menawarinya bikin buku.

Padahal pada 2012, saat awal-awal dirinya menulis cerita Mukidi di laman blog dan Facebook-nya, jarang sekali ada yang komentar atau like.

“Awalnya aku memang tak berniat mengomersialkan cerita itu,” kata Yoyok kepada Heru Triyono, Yandi Mohammad dan fotografer Wisnu Agung Prasetyo saat wawancara di sebuah tempat makan di Bentara Budaya Jakarta, Jalan Palmerah Selatan Nomor 17, Jakarta, Selasa sore (30/8/2016).

Sambil makan mi godok ia bercerita soal Dorothy Michaels, sosok perempuan tapi sebenarnya pria yang diperankan oleh Dustin Hoffman dalam film Tootsie (1982)–yang membuatnya begitu geli dan jadi inspirasinya.

Dia juga menyihir kami dengan cerita soal lika-liku hidup dan analisa komedinya selama hampir dua jam–diselingi gelak tawa dan hujan lebat.

Sebagian besar rambutnya tertutup topi pet (ivy cap) atau dikenal topinya para seniman. Dari bagian yang tak tertutup, terlihat rambutnya yang putih, termasuk alis dan janggutnya. “Pakai topi biar dikira seniman keren,” katanya nyengir. Berikut petikan perbincangan kami:

Mukidi mendadak terkenal setelah ceritanya tersebar di ranah maya. Kenapa kok baru sekarang, tidak sejak dulu…
Dulu kan Mukidi dikenal hanya dari mulut ke mulut, sehingga yang tahu terbatas. Buku yang aku buat hanya kalangan tertentu yang baca. Kalau zaman sekarang banyak sekali media pengantar yang bagus untuk menyebarkan, seperti Whatsapp, blog atau Facebook.

Siapa yang pertama kali menyebarkan cerita-cerita Mukidi?
Ada teman namanya Dian, tapi itu sudah lama. Kami berdua sering pulang bareng selama setahun di tempat kerja dulu. Dian mendengarkan kisah-kisah Mukidi di dalam perjalanan itu dari aku. Lalu Dian membuatkan aku Facebook.

Lalu, karena Facebook tempat menulisnya terbatas, teman aku yang lain, Ria Indah Sari, membuatkan aku blog Mukidi di WordPress pada 2012. Tapi di Facebook dan blog itu awalnya sepi. Yang komentar satu, bahkan terkadang enggak ada. Belakangan aku kaget kok laman blog ceritamukidi.wordpress.com dan Facebook begitu ramai. Malah ada iklannya segala.

Anda menyangka Mukidi akan setenar sekarang?
Enggak. Karena semua orang sudah tahu lelucon lama itu, meski si Krisna Purwana (penyiar Ida Krisna Show di radio Prambors) juga mungkin sudah lupa soal cerita Mukidi yang gue kirim ke dia.

Dulu, Deddy Mizwar tertarik dengan kisah Mukidi, kemudian menawari aku untuk menggarap naskahnya ke dalam film, tapi belum disanggupi sampai sekarang. Dia (Deddy) terkadang hanya meminta broadcast Mukidi. Kalau tidak dikirim sehari dia suka bertanya he-he.

Menurut Anda mengapa sosok Mukidi begitu kuat dan bisa diterima masyarakat?
Selain namanya mudah diingat, Mukidi ini sosok yang nyeleneh. Aku suka lelucon yang berasal dari sebuah absurditas yang tidak disangka dan menyentuh rasa emosi orang, atau tampak ambigu.

Prinsipnya Mukidi tidak pernah dibuat untuk berusaha melucu. Dengan adanya absurd dan ambiguitasnya maka pembaca akan otomatis tertawa, tidak bingung mencari lucunya di mana.

Bagaimana caranya untuk menganalisa sebuah cerita itu lucu atau tidak?
Humor atau kelucuan itu tidak memaksa, tapi juga tidak selalu identik dengan tawa. Tertawa hanya satu respons saja menanggapi humor. Kalau memang lucu pasti akan membuat orang jadi penasaran untuk mengikuti terus, kalau tidak lucu ya akui saja dan katakan. Cuek saja, dan jangan berharap orang akan tertawa dari cerita Anda.

Oke, biar jelas. Komedi yang tertulis tentunya kan berbeda dengan yang disampaikan secara verbal…
Begini, coba bayangkan ada orang yang bilang ke kita akan cerita lucu sebelum dia cerita. Apa ekspektasi Anda terhadap cerita itu? Lucu kan? Tapi yang selanjutnya terjadi biasanya sebaliknya.

Karena ketika orang itu sudah bilang akan cerita lucu, sebenarnya kelucuannya sudah hilang. Cerita atau menulis ya lakukan saja, tidak usah diberi label lucu.

Unsur-unsur apa saja yang bisa membuat sebuah cerita itu lucu?
Aku kasih contoh ya. Coba Anda lihat film Tootsie, yang menceritakan Dorothy Michaels, sosok perempuan tapi sebenarnya pria yang diperankan oleh Dustin Hoffman. Hoffman tidak berusaha melucu, bahkan perannya sebagai seorang wanita benar-benar manis dan sangat wanita.

Dorothy tidak lenje-lenje seperti banci untuk tampak lucu. Tapi penonton bisa tertawa geli karena kesalahan identitas (mistaken identity) yang Hoffman perlihatkan ke penonton. Ada kesatiran di sana, ada diskriminasi seksual, tapi tetap elegan, dan benar-benar digarap serius. Berbeda dengan film Indonesia.

Maksudnya film komedi Indonesia tidak lucu…
Bukan begitu, sebetulnya ini soal selera. Aku suka film yang serius tapi ada unsur lucunya, tapi tidak vulgar. Itu saja. Lihat deh film-film detektif, pasti ada kelucuannya.

Cerita Mukidi bukannya juga banyak yang vulgar?
Pas awal-awal memang agak vulgar, sekarang sudah aku kurangi, malu he-he. Lagi pula aku enggak niat mengomersialkan cerita Mukidi waktu itu. Hanya sebagai ice breaker saja saat presentasi ketika jadi product manager (di perusahaan farmasi) atau ketika ditanggap (disuruh cerita) sama keluarga.

Aku suka lelucon yang berasal dari sebuah absurditas yang tidak disangka dan menyentuh rasa emosi orang lain
Soetantyo Moechlas
Sejak kapan bercerita lucu di depan orang banyak?
Gue ingat dalam acara kantor di Hotel Horison Ancol tahun 1986 gue mencoba mengibur teman-teman perusahaan dengan kisah Mukidi. Nah, itu adalah pertama kalinya gue coba membuat orang lain tertawa. Sejak itu juga gue identik dengan Mukidi.

Oh Mukidi memang sudah terkenal saat itu…
Awal dikenalnya Mukidi sebetulnya bermula ketika nama itu jadi bagian dari strategi pemasaran tempat gue kerja. Mukidi itu singkatan dari obat Mucopect dan Kiddi Pharmaton. Singkatan itu memudahkan penjualan para sales obat.

Dengan singkatan Mukidi itu penjualan obatnya jadi laku?
Enggak juga he-he. Yang Mucopect-nya laku, tapi Kiddi-nya malah enggak.

Di media-media nama Mukidi dikatakan Anda diambil dari salah satu film Warkop DKI?
Bukan. Tidak ada hubungannya. Penamaan Mukidi karena saya suka nama-nama Banyumasan. Mukidi adalah nama populer di sana. Kebetulan saya berasal dari Purwokerto.

Mukidi seperti kombinasi Abu Nawas dan karakter ndeso Banyumasan, tapi karakter Mukidi sebenarnya itu seperti apa?
Yang pasti dia ini orang Cilacap, tidak pintar, biasa saja, serta tidak terlalu religius, plus nyeleneh. Aku tidak mau citra Mukidi ini rusak karena ada juga yang memodifikasi dengan cerita-cerita vulgar.

Tapi banyak lho Mukidi versi Betawi, Surabaya atau Madura, jadi tidak cuma dari Cilacap…
Enggak apa-apa. Kalau yang mengikuti Mukidi pasti tahu karakter yang sebenarnya. Buku yang akan aku terbitkan berikutnya akan menegaskan siapa Mukidi itu.

Aku sudah membicarakannya dengan penerbit. Nantinya cerita-cerita di buku-buku aku sebelumnya akan dikemas ulang ke dalam buku baru itu. Masih dalam proses.

Artinya siapa saja boleh memakai Mukidi di dalam ceritanya?
Silakan saja. Aku malah senang menginspirasi orang untuk kreatif. Tapi karakter Mukidi ciptaan aku pasti sudah banyak yang kenal duluan.

Cara mengawasinya bagaimana, bisa saja nama Mukidi jadi jelek karena dibuat versinya oleh orang yang berbeda…
Sudah tidak bisa (mengawasi). Mukidi sudah milik publik.

Tidak berencana dipatenkan?
Enggak, nanti malah repot. Rejeki orang itu sudah diatur masing-masing. Sama saja dengan merek Dagadu lah, siapa saja kan boleh pakai merek itu. Yang resmi hanya beberapa, tapi tetap saja sama-sama laku. Kenapa? Karena orang tahu mana yang asli dan tidak. Seperti juga bakpia.

Kalau Mukidi dipakai untuk komiditas politik, Anda keberatan?
Sebetulnya boleh saja, tapi bahaya lah begitu-begitu. Tiba-tiba politisi yang memakai Mukidi itu jatuh, citranya malah jadi jelek. Di usia saat ini aku cukup melakukan hobi saja deh: melukis, mengaji dan menulis. Enggak mau politik-politik.

Anda rutin menulis setiap hari…
Ya menulis cerita Mukidi di Facebook. Setiap hari selalu aku usahakan upload (unggah). Tapi saat kerja di farmasi aku juga sudah rutin menulis untuk buletin internal perusahaan. Saya mengisi kolom Hororskop, pelesetan dari horoskop. Isinya lelucon saja tentang zodiak para pembaca.

Misalnya Anda zodiaknya Leo, maka aku akan bilang ke Anda bahwa Anda akan mendapatkan uang pada tanggal 30. Tanggal 30 saat itu adalah harinya gajian. Aku juga mengisi rubrik Tumor, singkatan dari tulisan humor. Di tulisan itu terkadang aku selipkan kisah Mukidi.

Dari mana Anda mendapatkan ide-ide untuk cerita Mukidi?
Datang dari mana saja. Ada beberapa hal yang diambil dari kehidupan nyata, tetapi sebagian dihidupkan sendiri.

Saat awal-awal itu Mukidi sudah Anda karakterkan sebagai orang Cilacap dan punya istri?
Belum, baru nama doang, masih berantakan. Mukidi dari Cilacap itu lahir pas ketika blog cerita Mukidi dibuat (2012), bukan ketika saya bekerja di perusahaan farmasi.

Kenapa kok bisa masuk dunia farmasi, kontradiksi dengan hobi Anda, yaitu melukis dan menulis…
Sebenarnya tidak terpikir sama sekali. Tapi memang banyak saudara aku yang kerja jadi apoteker, temasuk om dan tante.

Aku akui capek sekolah farmasi, karena hampir setiap hari ulangan (ujian). Menghafal nama tumbuhan alang-alang lah, keluarganya apa lah he-he. Itu harus hafal di luar kepala. Aku hampir tidak lulus lho dari sekolah farmasi Kanisius Jakarta.

Menurut Anda latar pendidikan mempengaruhi selera humor seseorang?
Gue kira enggak juga. Setiap daerah itu punya karakter humor masing-masing. Mukidi yang berasal dari Cilacap dengan bahasa ngapak-nya tentu bertutur kata langsung dan mengena. Tidak seperti orang Yogyakarta dan Solo yang lebih halus. Makanya gue orangnya hampir sama dengan Mukidi, Banyumasan juga, hanya lebih bandel he-he.

Humor atau kelucuan itu tidak memaksa dan tidak selalu identik dengan tawa. Tertawa hanya satu respons saja menanggapi humor
Soetantyo Moechlas
Bandel menjahili orang atau bagaimana…
Jahil itu pas ketika kerja hi-hi. Tapi pada dasarnya gue memang enggak terlalu suka sekolah (saat kecil). Lebih suka baca komik Petruk-Gareng rekaan Tatang S atau buku cerita silat Nagasasra dan Sabuk Inten, juga Mahabarata.

Selain itu hobi melukis gue juga sudah tumbuh pas kecil. Kalau pulang sekolah pasti gue mencuri kapur di kelas untuk menggambar apa saja di lantai tegel (batu ubin)–di rumah. Pokoknya lantai rumah saat itu berantakan sama gue ha-ha. Tapi Ibu malah bilang enggak apa-apa. Karena lantai tegel jadi mengkilat oleh kapur setelah disapu.

Cita-cita kecil Anda menjadi pelukis?
Aku itu selalu keluar dari kotak. Meski jawaban aku kepada guru adalah insinyur tapi aku akan menambahkannya dengan hal yang aneh. Misalnya aku bercita-cita jadi insinyur yang pakai sarung. Tapi guru aku ya senang saja, karena nilai aku selalu 10 untuk pelajaran mengarang he-he dan juga bagus dalam pelajaran seni.

Kenapa tidak melanjutkan pendidikan ke bidang seni?
Begini. Bapak aku itu polisi, tapi tidak kaya, dia sangat jujur. Nah, saking miskinnya, sampai SMP (sekolah menengah pertama) aku pergi ke sekolah tidak pakai sepatu. Aku tidak bisa menyalurkan bakat aku untuk sekolah di Yogyakarta karena keterbatasan dana. Duit dari mana?

Ya syukurnya hobi melukis dan menulis itu sudah aku salurkan selesai pensiun, sudah seperti seniman lah ha-ha.

Btw di dalam foto-foto yang tersebar di media Anda identik sekali dengan topi pet (ivy cap), apakah itu jimat he-he…
Ha-ha bukan. Aku memang sudah 15 tahun pakai topi pet. Mau itu kondangan, acara resmi, aku tetap pakai topi. Lumayan buat menutupi uban, dan bergaya kayak seniman ha-ha. Koleksi topi aku mencapai dua lusin lho.