BRIsat Untuk APA ?

Bank Rakyat Indonesia sedang menulis sejarahnya sendiri. Bila tak ada gangguan lagi, Arianespace akan meluncurkan BRIsat, satelit komunikasi milik BRI, Sabtu (18/6/2016) waktu Indonesia, atau 17 Juni 2016 waktu Kourou, Guyana Prancis. Jika peluncuran ini berhasil, BRI akan menjadi bank pertama di dunia yang memiliki satelit sendiri.

Direktur Utama BRI Asmawi Syam mengatakan, selama ini BRI menyewa 23 transponder satelit dari beberapa perusahaan komunikasi di Indonesia dengan biaya mencapai Rp500 miliar per transponder selama setahun.

Sementara, BRIsat dibeli BRI dengan harga USD220 juta atau sekitar Rp2,5 triliun dengan menggunakan metode cicilan selama delapan bulan, atau sekitar Rp400 miliar per tahun dan nilai investasi sebesar Rp3,37 miliar. Ini berarti nilai yang relatif lebih murah ketimbang harus menyewa.

“Dengan membeli, BRI bisa menggunakan satelit untuk jangka waktu 15 tahun dan bisa diperpanjang hingga 17 tahun,” kata Asmawi dalam sindonews.com.

Jika mengeluarkan biaya yang sama, anggaran Rp3,37 miliar hanya cukup untuk menyewa 23 transponder selama 6,5 tahun. BRI pun mengklaim bisa berhemat ongkos operasional hingga 40 persen.

Kondisi geografis di Indonesia juga menjadi salah satu indikator utama BRI untuk meluncurkan satelit ini. BRI pun tak lagi perlu membangun fiber optik bawah laut untuk menghubungkan antar pulau. Satelit ini juga diharapkan mampu meminimalisir gangguan pelayanan seperti ATM bermasalah karena sinyal yang tidak kuat.

Roket pembawa satelit BRIsat dibuat oleh Arianaspace, perusahaan pembuat roket asal Prancis. Sementara, satelit BRIsat dibuat oleh SSL, perusahaan asal Amerika Serikat (AS).

Posisi Kourou dipilih karena lokasinya yang dekat dengan garis khatulistiwa. Guiana Space Center merupakan pusat peluncuran satelit Eropa milik European Space Agency (ESA) yang sudah berdiri 40 tahun dengan luas 700 kilometer persegi. French Guiana sendiri adalah wilayah luar negeri Prancis yang berlokasi di Amerika Serikat.

French Guiana yang bertetangga dengan Suriname memiliki cuaca yang stabil, sehingga cocok untuk peluncuran satelit. BRIsat sendiri direncanakan akan mengorbit di atas wilayah Papua.

Sekilas tentang BRIsat

Satelit BRIsat memiliki wilayah jangkauan di seluruh Indonesia, Asia Tenggara, Asia Timur – termasuk Tiongkok – sebagian Pasifik (Hawaii), dan Australia Barat.

Satelit dengan berat sekitar 3.500 kg ini akan memiliki 45 transponder. Dari total transponder yang ada, BRI akan menggunakan 23 transponder dan 4 transponder lainnya akan digunakan pemerintah.

BRIsat merupakan satelit dengan spektrum frekuensi C-band dan KU-band. C-band dan KU-band memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. KU-band merupakan band frekuensi yang populer karena memiliki bandwidth yang lebar, lebih aman terhadap interferensi dan memiliki ukuran antena lebih kecil, yang membuatnya menjadi lebih murah.

Kelemahannya, tak tahan akan curah hujan tinggi. Mengingat Indonesia merupakan negara dengan curah hujan tinggi, maka penyedia jasa komunikasi satelit lebih memilih untuk menggunakan C-band.

BRIsat sendiri memiliki 36 transponder C-band dengan bandwidth 36 MHz dan 9 transponder KU-band dengan bandwidth 72 MHz. BRIsat akan ditempatkan di orbit 150,5 derajat Bujur Timur. Sebelum dijadikan tempat BRIsat, orbit ini digunakan Indosat.

BRIsat memiliki bus satelit bertipe SSL seri 1300 berbentuk tabung dengan diameter 122 inci. Seri 1300 ini memiliki kemampuan daya mulai dari 5 sampai 25 kW. Ia dapat menangani sekitar 12 sampai 150 transponder aktif. Bus satelit yang dirakit SSL ini memiliki struktur yang ringan tapi kuat.

Saat BRIsat berada pada posisi on-station, dengan solar panel dan reflektor terbuka, jarak dari satu ujung reflektor ke ujung reflektor lainnya mencapai 24 meter.

Untuk mendukung BRIsat, BRI juga telah menyiapkan infrastruktur pendukung, yaitu PSFC (Primary Satellite Control) yang terletak di Ragunan, Jakarta Selatan. Fasilitas setinggi 13 meter ini memiliki alat kontrol serupa parabola di bagian atap. Parabola dengan antena berukuran besar ini memiliki sudut elevasi sebesar 38 derajat.

Dalam informasi yang ditayangkan metrotvnews.com, pihak BRI menjelaskan, alasan mereka membuat fasilitas kendali setinggi 3 lantai adalah untuk memastikan sinyal tak terhalang apa pun.

BRI juga membangun BSCF (Backup Satellite Control Facility) di Tabanan, Bali. Kedua fasilitas ini bersifat fully redundant. Dengan kata lain, jika terjadi masalah di Ragunan, maka sistem operasional satelit dapat langsung ditangani fasilitas di Tabanan.